Kewajiban bertaubat dan keutamaannya
Ketahuilah bahwa ayat dan hadits berikut ini menunjukkan kewajiban
bertaubat. Allah Swt berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ
جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Artinya, "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai
orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." Di ayat lain, Allah
berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah
dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus
kesalahan-kesalahanmu." Di ayat lain juga Allah berfirman: "Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertaubat."
Sedangkan, hadits dari Nabi Saw, beliau bersabda:
التَّائِبُ حَبِيْبُ
اللهِ, وَالتَّائِبُ مِنَ الذُّنُبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.
Artinya, "Orang yang bertaubat itu kekasih Allah. Dan orang yang
bertaubat dari perbuatan dosa seperti orang yang tidak punya dosa."
Nabi Saw bersabda: "Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya
yang mukmin daripada seseorang yang meninggalkan kendaraannya di tanah yang
kering dan gersang, padahal perbekalan makanan dan minumannya diletakkan di
atas kendaraan tersebut kemudian ia merebahkan kepalanya lalu tidur sejenak.
Ketika ia terbangun, ternyata kendaraannya hilang, maka ia mencarinya hingga
cuaca bertambah panas dan ia sangat kehausan, lalu ia berkata: "Lebih baik
aku kembali ke tempatku yang tadi lalu aku tidur sampai mati. Kemudian ia
merebahkan kepalanya di atas lengannya supaya ia mati. Tiba-tiba ia terbangun,
dan ternyata kendaraannya ada di sampingnya, di atasnya masih ada perbekalan
makanan dan minumannya. Akan tetapi, Allah lebih gembira dengan taubat hamba
yang beriman daripada riangnya orang yang menemukan kendaraannya yang hilang
tadi."
Para ulama sepakat tentang kewajiban bertaubat. Jika anda bertanya:
Bagaimana taubat itu menjadi wajib, sementara ia merupakan buah dari penyesalan
yang timbul di dalam hati? Penyesalan bukanlah kemauan pelaku perbuatan dosa, akan tetapi merupakan suatu
tuntutan kesadarannya atas dosa yang telah ia lakukan. Dengan demikian, kami
katakan, kesadaran itu harus. Karena ia termasuk ke dalam taubat yang wajib,
dan seorang hamba berbicara dalam hatinya dengan penuh kesadaran, penyesalan,
dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa yang telah ia lakukan, serta
dengan kekuasaan Allah. Karena Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang
kamu perbuat. Demikianlah taubat yang benar menurut kaum arif. Adapun selain
itu, maka taubatnya sesat.
Jika anda bertanya: Jadi seorang hamba tidak punya ikhtiyar dalam melakukan
sesuatu atau tidak melakukannya. Kami menjawab: Betul, dan hal itu tidaklah
bertentangan dengan pendapat kami, bahwa segala sesuatu berasal dari Allah Swt,
bahkan ikhtiyar manusia sekalipun merupakan ciptaan-Nya. Hamba terpaksa dalam
berikhtiyar. Karena Allah-lah yang menciptakan usaha yang benar, makanan yang
lezat, selera untuk makan, dan kesadaran di dalam hati bahwa makanan tersebut
menimbulkan selera makan, serta menciptakan kekhawatiran bahwa makanan tersebut
baik atau tidak. Lalu, selain itu adakah sesuatu yang menghalangi untuk
menyantap makanan tersebut? Kemudian Allah menciptakan kesadaran bahwa tidak
ada yang menghalangi. Walaupun seluruh faktor tersebut sudah terkumpul, jika
tidak ada keinginan untuk menyantapnya, maka makanan tersebut tidaklah dimakan.
Semua hal itu berurutan secara alami. Allah tidak mungkin menciptakan,
umpamanya, gerakan tangan untuk menulis sebait syair, jika Ia tidak menciptakan
kemampuan untuk menulis, kehidupan pada tangan, dan keinginan yang matang.
Allah juga tidak mungkin menciptakan keinginan yang matang tanpa menciptakan
kesadaran bahwa hal tersebut sudah sesuai dengan kemampuan dirinya. Ia juga tidak
menciptakan kesadaran, jika tidak ada faktor-faktor lain yang menimbulkannya,
yaitu kekuasaan, kehendak, dan pengetahuan (`ilm). Kesadaran dan kecenderungan
alami selalu mengiringi keinginan yang matang. Kehendak dan kemampuan selalu
menimbulkan gerakan. Demikianlah urutan pada setiap tindakan.
Segala yang diciptakan milik Allah Swt, akan tetapi sebagian menjadi
penyebab bagi yang lain. Hal itu sudah menjadi sunnatullah dalam menentukan
takdir bagi hamba-hamba-Nya, yang mana seperti sekejap mata semuanya berurutan
tiada berubah. Karenanya, Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya Kami
menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."
Termasuk kategori ukuran adalah gerakan tangan penulis setelah
diciptakannya kemampuan, maksud, kesadaran, dan keinginan. Jika keempat perkara
ini nampak pada diri seorang hamba, maka penduduk alam gaib lebih dulu daripada
penduduk alam nyata, dan mereka berkata: Hai manusia, engkau telah bergerak,
menulis, dan melempar. Lalu ada suara yang berseru dari balik Ka`bah; "Dan
bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang
melempar." Di ayat lain berbunyi: "Perangilah mereka, niscaya
Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu."
Ketika itulah orang-orang di muka bumi menjadi bingung. Ada yang berkata:
Itu hanyalah kebaikan semata. Ada juga yang berkata: Itu hanya sekedar
rekayasa. Dan ada yang netral mengatakan: Hal itu sudah tertullis. Seandainya
pintu-pintu langit dibukakan, lalu mereka menyaksikan alam gaib, maka pasti
nampak pada mereka bahwa masing-masing orang benar di satu sisi, akan tetapi
mereka seluruhnya memiliki kekurangan. Tidak ada yang mengetahui bagaimana hal
itu bisa terjadi, kecuali dengan pancaran cahaya dari lobang jendela menuju
alam gaib. Allah Swt berfirman: "Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang
gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu.
Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya."
Siapa yang menggerakkan rangkaian sebab akibat, dan mengetahui tata cara
merangkainya dari segi keterkaitan rangkaiannya bergantung pada Sang Penyebab
Utama, maka tersingkaplah baginya rahasia ukuran sehingga ia menjadi yakin
bahwa tidak ada pencipta selain Allah.
Jika anda telah memutuskan bahwa di satu sisi mereka semua itu benar, baik
yang mengatakan kebaikan, rekayasa, atau usaha. Akan tetapi di sisi lain,
mereka juga salah. Maka saya mengatakan: Betul, saya akan memberikan sebuah
ilustrasi kepada anda. Ada tiga orang yang buta mendengar bahwa di kota mereka
ada seekor binatang yang aneh, yaitu gajah. Sedangkan mereka belum pernah
mendengar dan melihat hewan tersebut. Maka salah satu dari mereka berkata: Kita
harus menyaksikan dan mengetahui hewan tersebut dengan cara merabanya sesuai
dengan kemampuan kita masing-masing. Lalu mereka mendatangi gajah tersebut dan
merabanya. Salah satu di antara mereka meraba bagian kaki gajah. Yang satunya
meraba bagian gading gajah. Dan yang lain meraba bagian kuping gajah. Lalu
mereka berkata: Kita sudah mengetahuinya. Ketika mereka pergi meninggalkan
gajah tersebut, ketiganya saling bertanya, tapi masing-masing dari mereka
mempunyai kesimpulan yang berbeda-beda. Orang buta yang meraba kaki gajah
berkata: Gajah itu seperti tabung yang terbuat dari kayu, hanya saja ia lebih
lunak. Sedangkan orang buta yang meraba bagian gading gajah berkata: Gajah itu
bukan demikian, akan tetapi ia keras dan tidak
lunak, serta lebih halus dan tidak kasar, sama sekali bukan seperti kerasnya
tabung, tapi seperti tiang. Kemudian orang buta yang meraba bagian kuping gajah
berkata: Gajah itu bukan demikian, akan tetapi ia seperti kain. Sekarang,
ketiga orang buta tersebut betul, karena mereka menceritakan gajah sesuai
dengan apa yang mereka raba darinya. Namun mereka juga salah, karena mereka
mengira bahwa mereka telah mengetahui gajah secara utuh. Demikianlah
perumpamaan dari perbedaan pandangan manusia tentang alam gaib. Kita kembali
kepada persoalan. Kami telah menjelaskan kewajiban bertaubat dengan tiga
bagian. Sekarang kami mengatakan: Taubat itu wajib dilakukan dengan segera,
karena meninggalkan perbuatan maksiat hukumnya wajib untuk selamanya. Allah Swt
berfirman: "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah."
Dari ayat ini, dapat diketahui bahwa taubat itu juga wajib terhadap seluruh
makhluk. Karena tidak ada seorang pun yang luput dari dosa, baik karena anggota
tubuh atau pun karena dosa di hati. Setidaknya dosa itu lupa dan lalai
mengingat Allah Swt. Dan bertaubat dari kelalaian itulah taubatnya para Nabi
dan orang-orang yang jujur serta orang yang tidak ridha dengan keberadaannya
dirinya hidup di dunia tanpa mencari faedah sama sekali.
Adapun orang-orang bijak yang dilapangkan oleh Allah dadanya untuk Islam
dan yang ditetapkan iman di dalam hati, maka mereka mereka mengetahui bahwa
setiap napas mereka adalah mutiara yang sangat berharga, bahkan seandainya
dunia dan segala isinya ditukar dengan satu napas, maka nilainya tidak bisa
tergantikan. Karena itu mereka menjaga waktu mereka, sedangkan yang lainnya
tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. "Sebelum datang kematian kepada
salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau
tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku
dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang soleh?" Artinya, ketika
dibuka tabir kematian seseorang, maka ia berkata: "Wahai malaikat maut,
tangguhkanlah kematianku sehari saja agar aku bisa memohon maaf kepada Tuhanku
dan bertaubat kepada-Nya, serta membekali diriku dengan amal soleh." Maka
malaikat maut menjawab: "Engkau sudah menghabiskan hari-harimu dengan
sia-sia, maka sudah tidak ada hari lagi yang tersisa untukmu." Lalu orang
itu berkata: "Bagaimana jika ditangguhkan sesaat saja." Maka malaikat
maut menjawab: "Engkau sudah menghabiskan waktumu dengan sia-sia, maka
sudah tidak ada waktu lagi yang tersisa untukmu." Maka tertutuplah pintu
taubat baginya. Ruhya menjadi sekarat dan napasnya tersengal-sengal. Ia menahan
perihnya keputusasaan ketika ia menyadari perbuatannya serta menyesali atas
umur yang ia sia-siakan. Maka bergoncanglah imannya –hanya kepada Allah-lah
tempat berlindung- karena tekanan malaikat maut sampai ia meninggal dunia. Jika
kebajikan dari Allah ditetapkan untuknya, maka
ruhnya keluar dengan bertauhid kepada Allah, sehingga ia mati dalam keadaan
husnul khatimah.
Akan tetapi jika ia ditetapkan celaka –hanya kepada Allah-lah tempat
berlindung- maka ruhnya keluar dalam keadaan ragu dan bimbang, sehingga ia mati
dalam keadaan su'ul khatimah. Perumpamaan ini telah digambarkan oleh Allah
dalam al-Qur`an yang berbunyi: Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari
orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada
seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya
bertaubat sekarang."
Dan ayat yang lain berbunyi:
إِنَّمَا التَّوْبَةُ
عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ
قَرِيبٍ.
Artinya, "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi
orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka
bertaubat dengan segera."
Artinya, setiap kejahatan harus diiringi dengan perbuatan yang baik,
sebagaimana yang sudah diterangkan dalam hadits Nabi Saw.