Keutamaan Taubat dan lstighfar - Taubatan Nasuhan

Pengertian,Kuwajiban,Keutamaan dan Tata Cara Taubat yang Benar. Terjemahan Kitab Mukhtashor Ihya' Ulumiddin

Keutamaan Taubat dan lstighfar

Kewajiban bertaubat dan keutamaannya
Ketahuilah bahwa ayat dan hadits berikut ini menunjukkan kewajiban bertaubat. Allah Swt berfirman:
وَتُوبُوا إِلَى اللَّهِ جَمِيعًا أَيُّهَا الْمُؤْمِنُونَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ.
Artinya, "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung." Di ayat lain, Allah berfirman: "Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu." Di ayat lain juga Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat."
Sedangkan, hadits dari Nabi Saw, beliau bersabda:
التَّائِبُ حَبِيْبُ اللهِ, وَالتَّائِبُ مِنَ الذُّنُبِ كَمَنْ لَا ذَنْبَ لَهُ.
Artinya, "Orang yang bertaubat itu kekasih Allah. Dan orang yang bertaubat dari perbuatan dosa seperti orang yang tidak punya dosa." 
Nabi Saw bersabda: "Allah lebih gembira dengan taubat hamba-Nya yang mukmin daripada seseorang yang meninggalkan kendaraannya di tanah yang kering dan gersang, padahal perbekalan makanan dan minumannya diletakkan di atas kendaraan tersebut kemudian ia merebahkan kepalanya lalu tidur sejenak. Ketika ia terbangun, ternyata kendaraannya hilang, maka ia mencarinya hingga cuaca bertambah panas dan ia sangat kehausan, lalu ia berkata: "Lebih baik aku kembali ke tempatku yang tadi lalu aku tidur sampai mati. Kemudian ia merebahkan kepalanya di atas lengannya supaya ia mati. Tiba-tiba ia terbangun, dan ternyata kendaraannya ada di sampingnya, di atasnya masih ada perbekalan makanan dan minumannya. Akan tetapi, Allah lebih gembira dengan taubat hamba yang beriman daripada riangnya orang yang menemukan kendaraannya yang hilang tadi."
Para ulama sepakat tentang kewajiban bertaubat. Jika anda bertanya: Bagaimana taubat itu menjadi wajib, sementara ia merupakan buah dari penyesalan yang timbul di dalam hati? Penyesalan bukanlah kemauan pelaku  perbuatan dosa, akan tetapi merupakan suatu tuntutan kesadarannya atas dosa yang telah ia lakukan. Dengan demikian, kami katakan, kesadaran itu harus. Karena ia termasuk ke dalam taubat yang wajib, dan seorang hamba berbicara dalam hatinya dengan penuh kesadaran, penyesalan, dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa yang telah ia lakukan, serta dengan kekuasaan Allah. Karena Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat. Demikianlah taubat yang benar menurut kaum arif. Adapun selain itu, maka taubatnya sesat.
Jika anda bertanya: Jadi seorang hamba tidak punya ikhtiyar dalam melakukan sesuatu atau tidak melakukannya. Kami menjawab: Betul, dan hal itu tidaklah bertentangan dengan pendapat kami, bahwa segala sesuatu berasal dari Allah Swt, bahkan ikhtiyar manusia sekalipun merupakan ciptaan-Nya. Hamba terpaksa dalam berikhtiyar. Karena Allah-lah yang menciptakan usaha yang benar, makanan yang lezat, selera untuk makan, dan kesadaran di dalam hati bahwa makanan tersebut menimbulkan selera makan, serta menciptakan kekhawatiran bahwa makanan tersebut baik atau tidak. Lalu, selain itu adakah sesuatu yang menghalangi untuk menyantap makanan tersebut? Kemudian Allah menciptakan kesadaran bahwa tidak ada yang menghalangi. Walaupun seluruh faktor tersebut sudah terkumpul, jika tidak ada keinginan untuk menyantapnya, maka makanan tersebut tidaklah dimakan. Semua hal itu berurutan secara alami. Allah tidak mungkin menciptakan, umpamanya, gerakan tangan untuk menulis sebait syair, jika Ia tidak menciptakan kemampuan untuk menulis, kehidupan pada tangan, dan keinginan yang matang. Allah juga tidak mungkin menciptakan keinginan yang matang tanpa menciptakan kesadaran bahwa hal tersebut sudah sesuai dengan kemampuan dirinya. Ia juga tidak menciptakan kesadaran, jika tidak ada faktor-faktor lain yang menimbulkannya, yaitu kekuasaan, kehendak, dan pengetahuan (`ilm). Kesadaran dan kecenderungan alami selalu mengiringi keinginan yang matang. Kehendak dan kemampuan selalu menimbulkan gerakan. Demikianlah urutan pada setiap tindakan.
Segala yang diciptakan milik Allah Swt, akan tetapi sebagian menjadi penyebab bagi yang lain. Hal itu sudah menjadi sunnatullah dalam menentukan takdir bagi hamba-hamba-Nya, yang mana seperti sekejap mata semuanya berurutan tiada berubah. Karenanya, Allah Swt berfirman: "Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran."
Termasuk kategori ukuran adalah gerakan tangan penulis setelah diciptakannya kemampuan, maksud, kesadaran, dan keinginan. Jika keempat perkara ini nampak pada diri seorang hamba, maka penduduk alam gaib lebih dulu daripada penduduk alam nyata, dan mereka berkata: Hai manusia, engkau telah bergerak, menulis, dan melempar. Lalu ada suara yang berseru dari balik Ka`bah; "Dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar." Di ayat lain berbunyi: "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menyiksa mereka dengan (perantaraan) tangan-tanganmu."
Ketika itulah orang-orang di muka bumi menjadi bingung. Ada yang berkata: Itu hanyalah kebaikan semata. Ada juga yang berkata: Itu hanya sekedar rekayasa. Dan ada yang netral mengatakan: Hal itu sudah tertullis. Seandainya pintu-pintu langit dibukakan, lalu mereka menyaksikan alam gaib, maka pasti nampak pada mereka bahwa masing-masing orang benar di satu sisi, akan tetapi mereka seluruhnya memiliki kekurangan. Tidak ada yang mengetahui bagaimana hal itu bisa terjadi, kecuali dengan pancaran cahaya dari lobang jendela menuju alam gaib. Allah Swt berfirman: "Dia adalah Tuhan) Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridhai-Nya."
Siapa yang menggerakkan rangkaian sebab akibat, dan mengetahui tata cara merangkainya dari segi keterkaitan rangkaiannya bergantung pada Sang Penyebab Utama, maka tersingkaplah baginya rahasia ukuran sehingga ia menjadi yakin bahwa tidak ada pencipta selain Allah.
Jika anda telah memutuskan bahwa di satu sisi mereka semua itu benar, baik yang mengatakan kebaikan, rekayasa, atau usaha. Akan tetapi di sisi lain, mereka juga salah. Maka saya mengatakan: Betul, saya akan memberikan sebuah ilustrasi kepada anda. Ada tiga orang yang buta mendengar bahwa di kota mereka ada seekor binatang yang aneh, yaitu gajah. Sedangkan mereka belum pernah mendengar dan melihat hewan tersebut. Maka salah satu dari mereka berkata: Kita harus menyaksikan dan mengetahui hewan tersebut dengan cara merabanya sesuai dengan kemampuan kita masing-masing. Lalu mereka mendatangi gajah tersebut dan merabanya. Salah satu di antara mereka meraba bagian kaki gajah. Yang satunya meraba bagian gading gajah. Dan yang lain meraba bagian kuping gajah. Lalu mereka berkata: Kita sudah mengetahuinya. Ketika mereka pergi meninggalkan gajah tersebut, ketiganya saling bertanya, tapi masing-masing dari mereka mempunyai kesimpulan yang berbeda-beda. Orang buta yang meraba kaki gajah berkata: Gajah itu seperti tabung yang terbuat dari kayu, hanya saja ia lebih lunak. Sedangkan orang buta yang meraba bagian gading gajah berkata: Gajah itu bukan demikian, akan tetapi ia keras dan tidak lunak, serta lebih halus dan tidak kasar, sama sekali bukan seperti kerasnya tabung, tapi seperti tiang. Kemudian orang buta yang meraba bagian kuping gajah berkata: Gajah itu bukan demikian, akan tetapi ia seperti kain. Sekarang, ketiga orang buta tersebut betul, karena mereka menceritakan gajah sesuai dengan apa yang mereka raba darinya. Namun mereka juga salah, karena mereka mengira bahwa mereka telah mengetahui gajah secara utuh. Demikianlah perumpamaan dari perbedaan pandangan manusia tentang alam gaib. Kita kembali kepada persoalan. Kami telah menjelaskan kewajiban bertaubat dengan tiga bagian. Sekarang kami mengatakan: Taubat itu wajib dilakukan dengan segera, karena meninggalkan perbuatan maksiat hukumnya wajib untuk selamanya. Allah Swt berfirman: "Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah."
Dari ayat ini, dapat diketahui bahwa taubat itu juga wajib terhadap seluruh makhluk. Karena tidak ada seorang pun yang luput dari dosa, baik karena anggota tubuh atau pun karena dosa di hati. Setidaknya dosa itu lupa dan lalai mengingat Allah Swt. Dan bertaubat dari kelalaian itulah taubatnya para Nabi dan orang-orang yang jujur serta orang yang tidak ridha dengan keberadaannya dirinya hidup di dunia tanpa mencari faedah sama sekali.
Adapun orang-orang bijak yang dilapangkan oleh Allah dadanya untuk Islam dan yang ditetapkan iman di dalam hati, maka mereka mereka mengetahui bahwa setiap napas mereka adalah mutiara yang sangat berharga, bahkan seandainya dunia dan segala isinya ditukar dengan satu napas, maka nilainya tidak bisa tergantikan. Karena itu mereka menjaga waktu mereka, sedangkan yang lainnya tidak bisa memanfaatkan waktu dengan baik. "Sebelum datang kematian kepada salah seorang di antara kamu; lalu ia berkata: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau tidak menangguhkan (kematian)ku sampai waktu yang dekat, yang menyebabkan aku dapat bersedekah dan aku termasuk orang-orang yang soleh?" Artinya, ketika dibuka tabir kematian seseorang, maka ia berkata: "Wahai malaikat maut, tangguhkanlah kematianku sehari saja agar aku bisa memohon maaf kepada Tuhanku dan bertaubat kepada-Nya, serta membekali diriku dengan amal soleh." Maka malaikat maut menjawab: "Engkau sudah menghabiskan hari-harimu dengan sia-sia, maka sudah tidak ada hari lagi yang tersisa untukmu." Lalu orang itu berkata: "Bagaimana jika ditangguhkan sesaat saja." Maka malaikat maut menjawab: "Engkau sudah menghabiskan waktumu dengan sia-sia, maka sudah tidak ada waktu lagi yang tersisa untukmu." Maka tertutuplah pintu taubat baginya. Ruhya menjadi sekarat dan napasnya tersengal-sengal. Ia menahan perihnya keputusasaan ketika ia menyadari perbuatannya serta menyesali atas umur yang ia sia-siakan. Maka bergoncanglah imannya –hanya kepada Allah-lah tempat berlindung- karena tekanan malaikat maut sampai ia meninggal dunia. Jika kebajikan dari Allah ditetapkan untuknya, maka ruhnya keluar dengan bertauhid kepada Allah, sehingga ia mati dalam keadaan husnul khatimah.
Akan tetapi jika ia ditetapkan celaka –hanya kepada Allah-lah tempat berlindung- maka ruhnya keluar dalam keadaan ragu dan bimbang, sehingga ia mati dalam keadaan su'ul khatimah. Perumpamaan ini telah digambarkan oleh Allah dalam al-Qur`an yang berbunyi: Dan tidaklah taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan: "Sesungguhnya saya bertaubat sekarang."
Dan ayat yang lain berbunyi:
إِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللَّهِ لِلَّذِينَ يَعْمَلُونَ السُّوءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوبُونَ مِنْ قَرِيبٍ.
Artinya, "Sesungguhnya taubat di sisi Allah hanyalah taubat bagi orang-orang yang mengerjakan kejahatan lantaran kejahilan, yang kemudian mereka bertaubat dengan segera."

Artinya, setiap kejahatan harus diiringi dengan perbuatan yang baik, sebagaimana yang sudah diterangkan dalam hadits Nabi Saw. 




Back To Top